Kolom - Gus Dur: Pemimpin Sederhana Berjiwa Toleransi - Suara Krajan


SUARAKRAJAN.COM -
Siapakah sosok Gus Dur itu? Kenapa semua orang sangat mengharapkan beradaan Gus Dur kembali walaupun beliau sudah tiada? Bahkan nama Gus Dur kenapa sefamilir ini, selain beliau adalah Presiden ke-4 Republik Indonesia.

KH. Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur adalah cucu Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari selaku pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang sangat terkenal di seluruh dunia. Walaupun Gus Dur masuk dalam kategori keturunan Darah Biru, beliau tidak serta merta sombong dan hidup dalam kegelimpangan harta.

Gus Dur dari kecil sudah terbiasa hidup sederhana dan berbaur bersama rakyat biasa sehingga mental dan kepribadian beliau terbentuk dari orang-orang sederhana, tetapi memiliki jiwa yang sangat luar biasa dalam toleransi dan nasionalisme. Walaupun beliau mempunyai privillage, tetapi ketekunan, kegigihan, dan kesederhanaan yang diajarkan oleh keluarga beliau tidak pernah beliau lupakan.

Bukankah kesederhanaan itulah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.? Padahal beliau adalah utusan Allah Swt. dan pimpinan umat Islam, tetapi beliau tetap menjalankan hidupnya dengan kesederhanaan. Hidup sederhana sebernarnya tidak menjadikan kita menjadi hina, tetapi dengan kesederhanaan itu akan tumbuh keberkahan yang berlimpah tanpa kita sadari dan duga-duga.

Sosok Gus Dur adalah pribadi yang fenomenal, artinya Gus Dur itu selalu hadir dalam waktu yang tepat dan memberikan warna khas dalam setiap sepak terjangnya, sehingga dirasakan betul manfaat kehadirannya dan ini diakui oleh hampir semua orang yang pernah mengenalnya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Terkadang Gus Dur bersikap lemah lembut menyampaikan nasihat-nasihat kepada orang lain menyangkut persoalan-persoalan kehidupan dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti nasihat orang tua kepada anak-anaknya, tetapi juga terkadang bersikap keras dan garang, jika itu terkait dengan persoalan-persoalan prinsip yang harus diperjuangkannya.

Sikap dasar Gus Dur dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara tidak terlepas dari pandangan hidupnya yang selalu mendasar pada kaidah “al muhafadzhoh ‘alal qodimissholih wal akhdzu bil jadidil ashlah” artinya bersikap mempertahankan nilai-nilai lama yang baik yang relevan dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Sikap dasar ini selalu Gus Dur perlihatkan dalan menyelesaikan setiap persoalan apa pun dalam konteks keumatan maupun kenegaraan.

Gus Dur berpandangan bahwa setiap orang itu sama dan wajib dimuliakan bukan malah dihinakan. Allah Swt. menciptakan berbagai umat beragama pasti memiliki tujuan dan salah satunya adalah agar kita saling mengenal dan toleransi sehingga terciptalah perdamaian bersama bukan kepentingan individu atau agama.

Sesungguhnya yang menarik di sini adalah bagaimana upaya Gus Dur agar dirinya bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat, termasuk di kalangan minoritas dan pihak-pihak yang selama itu termarjinalkan dari kehidupan, dalam arti tidak adanya kebebasan dalam mengekspresikan keyakinan, budaya dan adat istiadat yang mereka peluk. Dalam konteks itu Gus Dur sangat gigih berjuang untuk memulihkan hak-hak warga negara sebagaimana diamanatkan dalam falsafah dan idiologi negara Pancasila dan UUD 1945. Ternyata hasilnya bisa dirasakan oleh kita semua saat ini dan karena itu Gus Dur dianggap pahlawan dalam memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas.

Sosok Gus Dur tidak akan terlahir kembali dan tidak perlu lahir Gus Dur-Gus Dur yang lain, yang terpenting bagi kita adalah bagaimana visi besar Gus Dur tentang kebangsaan bisa dilanjutkan oleh para pemimpin NU dan tokoh-tokoh yang lain. Itulah wujud terbaik penghormatan kita kepada Gus Dur. Seperti adanya komunitas Gusdurian ini yang mewadahi semua orang dari berbagai kalangan, etnis, dan budaya.(")

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak