Cerpen Adhy Rantedoda | Mila - Suara Krajan

       Mila, ketika pertama kali kita bertemu di Majene, tepat pada saat kau merayakan Minggu kebesaranmu, aku merasakan hal-hal ganjil lagi aneh. Sependek pertemuan itu, kau tampak lain dari perempuan yang pernah kutemui sebelumnya. Matamu berpendar laiknya neon pijar. Gigimu rigid seperti biji mentimun. Soal senyum, aduhai. Sesiapa yang tak bisa menangkap keanggunan melalui sungging bibirmu yang beradu, kiranya pantas disangsikan kesehatan matanya.

“Terima kasih, Hartono,” ucapmu sambil tersenyum, merespons kata-kataku yang melesat bak panah, tak kalah dari pujian-pujian yang kau lantunkan di dalam Gereja Santo Penabur.

Hulu dari perjumaan kita tentu saja berkat Desi dan Wila. Aku pun bersumpah, kelak jika kau berhasil kurengkuh dalam pelukan, Desi dan Wila adalah dua orang pertama yang akan kuberi hadiah cokelat dan es krim.

Pada waktu-waktu berikutnya, kau dan aku kian tenggelam dalam banyak perbincangan, sebab sama-sama bergelut di studi hukum. Tak jarang kita menghabiskan waktu di sudut kedai depan kampus untuk sekadar membahas tentang peliknya kasus korupsi, revisi KUHP, dan sengkarut elite politik di Senayan Jakarta sana. Meski begitu, Mila, asal kau tahu, semua obrolan kita itu adalah siasatku menuju ke satu muara.

Mila, pada empat bulan kita yang terlewati dengan banyak cerita, aku menggenapinya dengan penantian di pelabuhan. Tepat pukul empat sore, saat matahari masih berayun di ketinggian, aku duduk sambil menghalau angin yang menerpa dua lembar kertas puisiku. Ketika aku mendapat empat bait, kau pun datang dengan raut yang sungguh mengembirakan. Rambutmu berterbangan seperti burung camar yang berjinjit-jinjit di atas laut lepas. Puisiku terhenti, namun jantungku kian berlari. Lantas kau duduk tepat di sebelahku. Aku tajamkan mata ke sekujur lehermu yang berhias kalung berliontin salib.

“Apa aku telat?” tanyamu lugu.

“Keterlambatan empat menit dari kesepakatan adalah siksa bagiku, Mila.” Lalu tawa kita terhentak di antara derau disel kapal yang hendak menepi.

Ketika surya merangkak di ambang air dan langit, aku pun menyatakan maksud yang sebenarnya. “Aku mencintaimu, Mila,” kataku lirih. Dua, tiga, empat detik berlalu tanpa suara dari bibir kita. Sunyi menyergap. Perasaanku mulai dilanda kalut tak tertahankan. Sementara dari sudut lain, matamu seakan mengerjap enggan dan sungkan.

“Mila…”

“Maaf,” ucapmu sambil tertunduk.

Hatiku serasa gempa bumi, mataku serasa tsunami.

“Maaf, aku harus jujur kalau aku merasakan hal yang sama,” sambungmu lagi dengan nada lucu yang tersendat.

Spontan kuraih tubuhmu dalam pelukan. Kita bersatu diiringi desir angin sore pelabuhan. Oh Mila, sejak saat itu, kaulah perempuan yang selalu kuhardikan dalam hari-hari yang melelahkan.

Namun Mila, tujuh bulan selepas menjalin kasih, tampaknya banyak kepayahan yang terjadi antara kita. Pertama, aku meminta maaf atas kekecewaanmu. Kau datang jauh dari Mamasa hendak menemuiku. Setibanya di sini, pertemuan malah sama sekali tak terjadi. Kau tahu Mila, saat itu aku sedang kacau. Aku kalap dengan sukarnya mendapat pekerjaan padahal map-map surat lamaran sudah menumpuk di kamar. Begitu pula dengan sampah-sampah surel yang telah kukirim ke-34 perusahaan, tak satupun berbalas. Karenanya, saat itu aku merasa hina untuk menemui seorang perempuan yang gemilang pendidikannya seperti dirimu.

Akhirnya aku tersadar jika semua itu semu belaka. Aku sadar jika ketulusanmu adalah anugerah yang telanjur kusia-siakan. Berbulan-bulan kau menolak seluruh panggilanku. Jangankan bertemu, pesan, surat, salam, semuanya dariku bahkan tak kau tanggapi. Kutanyakan keadaanmu pada Desi dan Wila, juga tak pernah mendapat jawaban yang memuaskan. Mila, sebegitu salahkah aku di hadapanmu?

Atas kerancuan-kerancuan yang terjadi, maka tanya menyembul dalam diriku. Mungkinkah kau ingkar pada kesetiaan? Mungkinkah kau telah mendapatkan lelaki lain yang lebih dari segalanya?

Dan, ya. Keraguanku itu pada akhirnya terjawab saat kuberanikan diri bertamu di rumahmu. Belum genap lima belas menit aku duduk di ruang tamu, seorang lelaki datang dan mendapat sambutan hangat yang belum pernah kudapatkan darimu. Tak perlu banyak bicara, saat itu juga aku mengahatur pamit. Berbekal senyuman-senyuman kecut, kuraih ransel dan melangkah menjauh dari rumahmu, juga dari kehidupanmu.

Mila, jangan pernah kautanya bagaimana perasaanku. Bukankah itu tak akan berarti apa-apa untukmu? Aku tersungkur dalam titik terendah. Aku gemar melamun dan mengingau, membayangkan kembali kisah yang pernah kita jalani bersama. Dalam remang lampu kamar, kulanjutkan puisi yang dahulu belum rampung kutulis. Pada reruntuhan hati, aku berharap semoga kelak kita akan berjumpa dengan keadaanku yang lebih tertata. Sementara kau, Mila, tentu saja semoga bahagia dengan keputusanmu.

Akhirnya permohonanku terwujud juga. Meski sepertinya mustahil, nyatanya kau dan aku berjumpa kembali di pelabuhan. Ya, tempat kita pernah memulai segalanya. Akan tetapi, kali itu kau tampak lain dari yang dahulu. Mila, aku ingat sekali saat itu pandanganmu kosong, wajahmu layu, matamu sayu. Dipenuhi sesenggukkan, kau mengucap maaf atas perbuatanmu kepadaku. Aku membisu. Akan tetapi dalam rintih keinginan, aku menjawab maafmu dengan ingatan yang sulit sekali hilang: tentang sikapmu yang dingin, tentang salam yang tak kaubalas, dan tentang lelaki yang kau pamerkan di hadapanku.

Merasa tak mendapat jawaban apa pun dariku, kau seperti putus asa. Sembari mengusap air mata yang tak kuketahui maksudnya, kau membalikkan punggung. Perlahan kau berjalan menjauh, sedangkan aku masih mematung.

Mila, aku benci pertemuan itu. Aku benci pengabaian, karena dialah musabab kehancuran kita.

Ombak berkecamuk pada sore yang getir. Ia mengampuni karang yang menghalang. Dan, ya, pengampunan adalah obat mujarab dari segala derita. Tanpa kusadari, lidahku yang semula kelu sesaat berucap lantang memanggilmu.

“Mila!”

Spontan kau berbalik, dalam pandangan yang gamang, mata sembabmu menghunus jantungku sekuat mungkin. Setengah mati aku menahan munafik. Namun, kekecewaanku yang menjamur telah terkelupas oleh perasaan yang sukar kusembunyikan.

Sejujurnya kelopak mataku tak sanggup berbohong, hatiku enggan rela atas upaya kepergianmu. Mila, kau tak perlu kembali, akulah yang akan melangkah menghampiri dirimu yang hampa itu. ***

 

Adhy Rantedoda. Gemar menulis dan membaca buku. Sekarang tinggal di Mamuju, Sulawesi Barat. Dapat disapa lewat IG: adhykarangan.


1 Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak