5 Puisi Eliaser Loinenak | Panorama Puncak Gunung Sunu - Suara Krajan

LAHIR BARU

sorga terbuka membersamai lintang kemukus
ketika matahari ada pada bintang capricornus
sejoli tersungkur merapalkan bait-bait paling syukur kepada sang ilahi
 
kau datang membawa seberkas cahaya dari dinding firdaus
membuka kelopak mata mungil dan jemari bergerak merabai semesta
melangkah mengikuti pola waktu, berputar, melingkar kembali berulang seperti
daun-daun yang gugur kemudian kembali bertunas
 
menjelma,
setangkai bunga yang segar di antara daun-daun yang kering
senandung merdu di antara senyapnya keheningan
sehimpun hujan di antara tanah-tanah yang pecah
sebatang lilin yang iklas menyala di antara jiwa-jiwa yang gulita
dan senyum di antara gugurnya bunga-bunga
 
(2022)
 
 
SEBAIT RINDU
 
pernahkah kau coba menyadari
setiap detik dan detak  rindu meluncur begitu saja
membuncah, tajam menohok, menggerogoti jiwa
segenap asa berderet berdesak-desak          
 
cobalah tengok ke dalam jiwa barang sejenak
barangkali terselip sejumput rindu di sana
nyatanya kau hanya menatap tak bergeming
membiarkan  rindu luruh berujung lara
 
rasanya ingin lari dari belenggu ini
nyatanya sepasang kaki terpasung
pada semesta asa yang membentang
 
bilakah kebekuan ini mencair?
nyatanya relung hati hancur berkeping-keping
rindu seperti duri dalam daging  
bersarang  dan beranak pinak     
 
2022
 
 
SUDAHLAH
 
sudahlah
bangkitlah dari gelisah
simpan segala keluh kesah
tanggalkan semua lara
nyalakan api membara
pergilah segera
mentari pagi akan segera merekah
tetes bening embun akan membasuh
“dan jangan lagi menangis untuk hal yang sama”   
pergi dan temui riwayatmu                
 
2022
 
 
SANG PENABUR
 
saban hari ia pacu langkah demi langkah
susuri jalan berliku penuh luka menganga              
menjunjung matahari mendaki bukit ke bukit
menuju jiwa-jiwa papa yang setia menanti
digemburnya ladang-ladang kosong itu penuh cinta
menabur benih-benih dengan penuh kasih
benih yang kelak menciptakan kebahagiaan
 
saban hari selalu begitu
sungguh perjalanan panjang dan melelahkan
tapi ia tak pernah mengeja letih menyebar benih kehidupan
melukis pelangi di kala senja bersama anak-anak langit
ia tak mau mengeluh sebab ia tahu
apa yang ia tabur itu yang akan dituainya nanti
 
2022
 
 
PANORAMA PUNCAK GUNUNG SUNU
 
Di atas seribu tujuh puluh empat meter dari permukaan laut Timor
Aku berdiri menyongsong matahari bangkit dari cakrawala laut selatan.
Memandangi bayangan diri yang memanjang pada permadani hijau terhampar  
Semilir basah angin pagi menyapa
Ketika bebutiran embun bersiap luruh dari ujung rerumputan
Kesejukan yang mengabarkan keramahan tanah Surga Nusantara
Tanah leluhur kami, tanah tumpah darah yang kami cintai
 
Dari atas seribu tujuh puluh empat meter di atas permukaan laut Timor
Aku berdiri, menyapa tuan dan puan sekalian
Mampirlah ke sini suatu pagi atau senja
Meski untuk menjangkaunya mesti menempuh perjalanan panjang
Selatan terus ke Selatan dari Kupang kota Kasih
Terus saja berjalan melewati SoE kota dingin dan Niki-niki
Tuan dan puan akan tiba  di Oinlasi, jantung Amanatun Selatan
Bergeserlah sedikit, tuan dan puan akan tiba di sini
 
Datanglah ke sini suatu pagi atau senja
Di sini, tuan dan puan akan menyaksikan lekuk garis pantai di batas cakrawala
Pula bukit dan lembah yang berkelok-kelok di kejauhan
Lukisan tangan Tuhan yang tiada tara indahnya
Inilah surga nusantara di Indonesia Timur
 
Datanglah ke sini suatu pagi atau senja
Di sini kokoh berdiri patung presiden Joko Widodo
Dengan pakaian adat Amanatun berwarna merah putih, lambang pemersatu nusantara
Pun patung  Meo Smau Benu, leluhur kami yang tegak berdiri
Melindungi tanah kami dari kezaliman
 
Amboi, tiada  yang melebihi keindahan panorama puncak gunung Sunu
Tak ada  yang melampaui keperkasaannya
Lambang impian yang terpatri di benak kami anak-anaknya
Agar terus kobarkan semangat menggapai asa setinggi gunung negeri kami
Mencapai  puncak menapak satu-satu
Meraih ketinggian tanpa ada yang terlewatkan
Tanpa melupakan lembah di bawah sana
Membuang jauh-jauh sikap angkuh
 
2022
 
 
 
Eliaser Loinenak lahir di  Puamese, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, 2 Mei 1980. Menulis cerpen dan puisi. Cerpennya yang berjudul  Teku dan Perjalanan  sempat dimuat di Pos Kupang edisi Minggu (2002-2003), cerpen Sekuntum Mawar Merah Jambu untuk Gadis Bergaun Hitam dan  Dairy Hitam  dimuat di Majalah Cakrawala Pendidikan NTT. Puisi-puisinya termuat di umakaladanews.com, balipolitika.com, Majalah Elipsis ,Media Sastra dan Budaya negerikertas.com, dan faktahukumntt.com. Saat ini mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri Satu Atap Sunu, Amanatun Selatan, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak