Cerpen Aldaninda Raya Mahrunisa | Menonton Wayang - Suara Krajan

Seperti biasa, aku berangkat mengaji ke TPQ al-Kautsar, sore ini ada pengumuman bahwa besok ada yang akan mementaskan wayang di masjid al-Kautsar.

 “Wah aku suka banget sama wayang, aku sudah tidak sabar ingin melihatnya besok,” Kata Zera teman TPQ-ku, “iya aku juga,” teman-temanku yang sangat suka wayang memberikan pendapat mereka masing-masing.

Tidak terasa ternyata sudah azan asar, aku dan teman-teman pun langsung mengambil air wudhu.

 “Yuk, kita masuk,” ajakku sambil masuk kembali ke masjid. Zera berjalan sambil melompat-lompat kecil karena saking senangnya. Setelah shalat asar bersama, aku, Zera dan teman-teman yang lainnya dipanggil bu Ustadzah untuk bersiap-siap mengaji, di situ kami disuruh membaca surah al-Kahfi 1-10 secara bersama-sama. Saat di tengah-tengah bacaan, aku melihat bahwa ada yang sedang mempersiapkan barang-barang untuk dalangnya nanti.

 “Raya...Oyy,” bisik Zera di telingaku, aku pun kaget karena melamun melihat barang-barang yang tadi dipersiapkan. Akhirnya mengaji pun selesai. Aku dan Zera pulang bersama.

 “Mmm Raya, kamu sudah pernah nonton wayang belum?” Tanya Zera.

“Kalau secara langsung belum pernah si,” jawabku malu. Setelah itu Zera menceritakan tentang wayang. Aku pun menjadi sangat tertarik dengan wayang.

“Mmm ternyata wayang itu menarik ya,” pikirku dalam hati.

“Wah...aku jadi tidak sabar,” kata Zera dengan sangat semangat.

Tidak terasa aku sudah sampai di depan rumahku, aku pun melambai-lambai tanganku sambil mengatakan “dadah!” ke Zera. Aku pun langsung masuk ke rumah dengan gembira sambil mengucapkan salam.

 “Assalamu’alaikum...aku pulang,” kataku dengan wajah riang dan gembira.

“Wa’alaikumus salam...waduh senang sekali, memang ada apa tadi di TPQ, kok bisa seneng banget?” tanya ibu yang penasaran.

Aku pun menceritakan bahwa ada pengumuman kalau besok ada yang akan bermain wayang, lalu aku pun juga menceritakan tentang wayang yang tadi diceritakan oleh Zera.

Saat akan malam tiba, aku dan keluargaku bercerita santai tentang wayang, aku pun menawari adikku Bunga untuk ikut menonton wayang, tapi adikku takut untuk menonton wayang, jadi aku memberitahu ke adikku bahwa wayang itu tidak seram sama sekali. Tapi, adikku tetap saja tidak mau.

 “Ya sudah kalau tidak mau, padahal seru hlo, nyesel kalau gak ikut,” bujukku sambil pura-pura merajuk.

“Aku tetap gak mau ikut,” jawab Bunga merajuk

“Aku cuma bercanda kok.”

Makan malam pun selesai. Aku dan adikku membantu ibu membersihkan meja dan menaruh piring ke cucian.

 “Mba Raya piringnya minta tolong sekalian dicuci ya,” kata ibu.

“Siaaap ibu,” kataku dengan nada yang semangat.

Setelah mencuci piring, terdengar suara adzan isya. Ayahku segera wudhu dahulu karena mau ke masjid. Ya, aku gak ke masjid. Jadi, aku shalat bersama ibu dan adikku.

Saat sudah jam 9 malam, aku bergegas untuk siap-siap tidur karena besok pagi sekolah.

***

Pagi hari pun tiba, aku bangun untuk mandi, memakai baju, membereskan tempat tidur, lalu sarapan.

 “Ibu, sarapan pake apa?” tanyaku.

“Ibu masak ayam goreng mau?” ibu menawarkan.

“Mau dong!!” jawabku semangat karena aku sangat menyukai ayam goreng...Nyam...Nyam. Aku pun makan dengan lahap, sampai tidak terasa sudah pukul setengah tujuh, aku segera menyelesaikan sarapan karena sudah siang.

“Ayo mba Raya naik ke mobil,” ajak ayah sambil memakai sepatu.

”Iya ayah,” jawabku.

Dalam perjalanan ke sekolah, agar tidak bosan aku dan ayah bercerita-cerita tentang bermacam-macam topik. Sehingga sampai deh di sekolah.

“Assalamu’alaikum ayah, aku berangkat ya,” kataku sambil melambaikan tangan.

“Wa’alaikumus salam.”

Lalu aku masuk ke sekolah, dan di kelas aku menceritakan kepada teman-temanku bahwa aku akan menonton wayang sore ini. Teman-temanku juga ternyata tertarik dengan wayang.

 

“wah, aku jadi ingin ikut melihatnya,” kesan mereka.

“Kring!!!” bel berbunyi waktunya masuk kelas. Saat istirahat kami pun lanjut berbincang.

Ketika sekolah sudah selesai, di perjalanan pulang aku bertemu dengan Zera, lalu kami pulang bersama sambil bercerita tentang sore nanti.

 “Raya, kamu jangan lupa ya nanti sore ada wayang,” kata Zera mengingatkan.

“Oh iya, aku hampir lupa,” jawabku sambil mengelus-elus kepala.

Kami pun berpisah jalan karena beda arah. Dan akhirnya aku sampai di depan rumahku. Aku mengucap salam dan langsung menuju ke kamar. Ternyata sudah adzan dzuhur. Aku langsung mengambil air wudhu lalu shalat.

Setelah shalat aku tertidur, entah kenapa aku tertidur. Tapi jadi tidak terasa kalau sudah sore. Ya, seperti biasa aku mandi, shalat asar, lalu berangkat bersama Bunga. Sebenarnya Bunga tidak ingin berangkat, tapi Bunga seperti sedikit penasaran dan akhirnya tetap ingin melihatnya.

Saat berangkat, kami pun bertemu dengan teman TPQ-ku, yaitu mba Isna. Jadi, kami berangkat dengan mba Isna hingga di depan masjid. Kami pun masuk, waaah...ternyata sudah hampir dimulai. Aku dan mba Isna mencari tempat duduk. Dan wayang pun dimulai, tema wayang yang dimainkan adalah “Jangan Membantah Kepada Orang Tua”. Kami melihatnya dengan serius, termasuk Bunga.

 “Lincah sekali bermain,” kesanku dalam hati.

Dan...pertunjukkan wayang pun selesai. Kami semua bertepuk tangan dengan meriah. Bu Ustadzah pun juga bertepuk tangan.teman-temanku juga memberi kesan mereka. Zera pun terlihat sangat senang setelah melihat pertunjukkan wayang tadi. Setelah itu, kami semua akan pulang ke rumah masing-masing. Tapi saat itu sebenarnya aku masih penasaran mengapa TPQ al-Kautsar mengadakan pertunjukkan wayang. Akhirnya aku bertanya ke bu Ustadzah.

Ternyata alasannya adalah dalangnya itu mau mondok mengaji dan sudah tidak mengaji di TPQ lagi. Aku pun bertanya.

 “Sebenarnya dalangnya itu siapa bu?” tanyaku kepada bu Ustadzah.

“Dalangnya itu mas Fatih,” jawab bu Ustadzah. Dan aku baru ingat kalau mas Fatih juga mengaji di TPQ. Yaaa...sebelum berangkat ke pondok aku memberikan salam dan suport agar semangat mengajinya.

Akhirnya aku dan Bunga pun pulang dengan perasaan yang senang. Bunga sudah tidak takut menonton wayang.

 “Mba, ternyata wayang gak seram ya,” kata Bunga dengan mata yang imut berkilau.

“Iya kan gak serem,” jawabku.

Lalu kami pun pulang sambil bercerita tentang wayang yang tadi. Kini, aku jadi semakin tahu tentang wayang karena Zera dan pertunjukkan wayang tadi secara langsung. Dan aku serta Bunga menceritakan pengalaman kami menonton wayang kepada ayah dan ibu.

 

======================

Aldaninda Raya Mahrunisa, Siswi SD Muhammadiyah 1 Banjarnegara. Senang menulis dan melukis. Karyanya pernah dipublikasikan di Cerano ID dan Tajdid ID.

3 Komentar

  1. Semangat berkarya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mantappp...lanjutkan mba raya

      Hapus
  2. Selamat dan terus semangat nduk, cah ayu. Si mbah ikut mendoakan semoga tulisan2 nya bermanfaat untuk sesama dikemudian hari.. 😍😍

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak