Cerpen Ramli Q.Z. | Kampung Tanah Pelacur - Suara Krajan

“Itu tanah dosa pengundang segala macam malapetaka!” begitulah ucap mereka setelah mendengar cerita Sudarta.

 

Sudarta memang masih ingat pesan kakeknya dulu bahwa orang Kampung Cidadar jangan sekali-kali melintas hingga di ujung timur hutan Cimaweleng. Pesan itu tak ubahnya menurut Sudarta seperti rantai yang mengikat dan mengarat. Mustahil untuk dilepaskan kecuali keluar dari kebiasaan.

 

Itulah yang membuat Sudarta semakin memuncakkan rasa penasarannya. Dia memang tidak ingin mati berlarut-larut dalam rasa yang masih tabir-tabir rahasinya merapat tanpa tersingkap.

 

Setiap fajar mulai memancar, malam sudah terbiasa purna dan matahari sedikit mengintip bagai mata jelita. Warga Kampung Cidadar biasa berbondong-bondong menuju tengah hutan mencari ranting kering yang bisa mereka gunakan menyulut tungku dapur. Mereka-mereka tiada satu pun yang pernah mencuri waktu untuk mengunjungi tanah itu hanya sekedar menginjakkan kakinya lantas pulang tanpa sekecap kata dan cerita.

 

Terkadang pula, tatkala ranting-ranting sudah tiada lagi di sekitaran kampung sendiri, mereka akan membawa kapak masing-masing dan menebang liar pohon-pohon besar dekat Kampung Tanah Pelacur. Mereka sangat tidak hirau akan terjadi sesuatu seperti apa jika hutan digunduli. Mungkin saja dalam pikiran dan hati mereka sudah kehilangan seberkas rasa iba yang pernah mengisi seruang titik dalam rongga hatinya.

 

Sudarta meninggalkan serangkap ranting yang diikatnya kuat dan sebilah parang tajam yang mengilat. Dia berlari menuju arah timur, tempat Kampung Tanah Pelacur terhampar. Sudarta memang telah berjanji pada dirinya sendiri ia takkan pulang jika masih belum tahu bagaimana Kampung Tanah Pelacur, siapa saja penghuninya, dan bagaimana mereka saling menjalin hidup. Apakah memang benar di sana tempat hunian pelacur-pelacur yang membuat dunia kian sarat bergelimangan dengan salah dan dosa?

 

Sebelum matahari terbenam, Kampung Tanah Pelacur itu sudah sangat tampak di pelupuk mata Sudarta. Rumah-rumah yang terbuat dari anyaman bambu tersusun rapi disertai satu hingga dua gardu di tiap-tiap rumah. Sudarta menghentikan larinya dan berjalan memasuki gerbang seperti warga di sana pada lazimnya.

 

Pertama ia masuk dan berkecimpung dalam suasana kampung itu, Sudarta langsung menyaksikan becekan darah di sepanjang jalan. Darah-darah itu mengalir membentuk sungai-sungai kecil bagai sisa air hujan yang jatuh setelah menghujam bumi. Anehnya, Sudarta tak mengendus aroma busuk. Dia cuma merasakan semerbak wewangian yang masih belum pernah ia cium dari segala parfum dunia.

 

Sudarta semakin melangkah menyusuri jalan-jalan setapak hingga ia bertemu dengan sekelompok orang yang menangis rintih. Suaranya melengking-lengking, membuat degup jantung Sudarta terguncang laksana bahtera di tengah samudra yang diterpa badai dan dihantam gelombang besar.

 

“Ada apa gerangan sehingga tangismu sangat begitu sedih,” Sudarta bertanya kepada salah seorang yang duduk terpekur sambil menundukkan kepala.

 

“Bagaimana kami tidak sedih dan menangis merintih-rintih. Lihatlah, Tuan, darah-darah itu mengalir dari tubuh orang-orang suci kami yang dibunuh dengan cara dipotong-potong tubuhnya, lalu potongan itu dibawa pulang,” balasnya disertai bibir gematar. Kaku.

 

Tanpa membalas sepatah kata, Sudarta beranjak meninggalkan suasana tangis yang membuat pertama hatinya meringis. Tak lama dari perjumpaan dengan sekelompok orang yang menangis, dia tanpa sengaja bersua dengan kelompok orang yang begamis serba putih. Mereka berbondong-bodong menuju suatu surau yang di dalamnya terdapat satu orang yang berwajah bersih berseri. Lelaki itu mengenakan gamis paling putih dan tubuhnya paling tinggi. Seperti seorang darwis yang ingin memberikan pencerahan dalam setiap hati.

 

Sudarta sangat sulit membedakan mana pria dan wanita. Semua tubuh mereka sama. Dalam batin Sudarta bertanya, “Mungkinkah itu malaikat? Atau manusia suci telah menjadi malaikat?” Sudarta sengaja menguntit dari belakang. Langkahnya dipelankan dan tubuhnya diendap-endapkan.

 

Sesampainya di surau mereka berbaris rapi dan gamis yang mereka kenakan itu semakin cerah bagai cahaya yang pernah Adam bawa dari pojok surga. Lalu mereka bersedekap, membungkuk, dan bersujud mengikuti seorang di depannya itu. Sudarta memerhatikan jeli cahaya yang sinarnya semakin tinggi dan semakin mengaburkan penglihatannya.

 

“Hei orang asing, atas alasan apa kau mengunjungi desa ini yang kata mereka tempat ini telah melebur bersama dosa-dosa.” Suara itu timbul sendirinya. Di telinga Sudarta masih terngiang jelas suara aneh mengagetkan. Entah siapa yang berucap. Seketika mata Sudarta sangat jernih memandang seorang yang perawakannya persis sekali dengan Ki Hajar, imam masjid di Kampung Cidadar. Di wajahnya sangat tampak garis keriput tua, namun pendaran cahaya dijidatnya tak kunjung juga sirna.

 

Dia memandangi Sudarta lekat dan tajam. Kemudian disusul semua mata orang bergamis putih juga menatapnya runcing. Sudarta tetap membalas tatap biasa. Tanpa disadari, cahaya itu semakin mengilau, membuat mata Sudarta merasa ngilu, dan akhirnya membuat Sudarta terlempar ke tempat di mana ia meninggalkan seikat kayu dan parang tajam yang mengilat.

 

Sudarta kembali lari sekencang mungkin ke arah barat. Dengan napasnya yang kian tersengal-sengal seperti menjauh dari kemelut rasa takut.

 

Wajah kusam dan mata bagai kekurangan cahaya, begitulah keadaan Sudarta ketika sampai di rumah. Warga saling menatap sinis seolah sangat benci menyaksikan Sudarta datang lagi dengan membawa najis diri. Mulut-mulut warga mulai mencerca. Kata-kata keras terlontar, berhamburan.

 

“Dasar lelaki tak diuntung. Berani-beraninya melanggar aturan untuk pergi ke Kampung Tanah Pelacur!” tebakan mereka tepat sekali. Terlihat Sudarta berusaha mengunci segala rahasia.

 

“Pasti dia telah bercinta dengan sekian banyak wanita-wanita pendosa.”

 

“Aku yakin Sudarta berkali-kali meniduri wanita penghuni tanah dosa.”

 

“Hus! Cukup…!!!” teriak Sudarta untuk menghentikan hujaman kata pahit mereka. “Dari mana kalian tahu bahwa aku telah mengunjungi tepat itu.” Sudarta membela untuk menyamarkan kebohongannya.

 

“Halah, sudah jangan bohong kepada kami. Kami telah mengenal sikap seseorang yang telah melakukan pelangaran. Apalagi kamu telah melanggar untuk pergi ke kampung itu. Kami juga bisa melihat isi otakmu yang berisi wanita bugil. Iyakan?”

 

 “Kampung itu bukan seperti yang kalian pikirkan. Kesedihan kampung ini tentu lebih kecil daripada kesedihan yang datang bertandang ke Kampung Tanah Pelacur. Bagaimana mereka menatapi kesedihan dengan mata sendiri yang menyakasikan pembunuhan-pembunuhan sadis dengan cara memotong-motong tubuh.”

 

“Ah, pantaslah jika tanah dosa memang selalu dihadiri segala macam-macam malapetaka. Di sana sudah seharusnya mendapat musibah yang serasa rajaman para pezinah”

 

“Tapi pernahkah kalian tahu,” Sudarta menatap langit, “Ki Hajar, imam kita di masjid telah menjadi orang besar di sana. Perkataannya diikuti, dan segala gerak-geriknya ditiru seperti sahabat mengikuti perilaku nabi.”

 

“Benarkah?” tanya seorang dengan nada serius.

 

“Sungguhkah?” sambut oleh orang di sebelahnya dengan nada tak kalah penasaran.

 

“Tidak! Dia takkan pernah melakukan pekerjaan laknat. Jangan-jangan itu cuma alasanmu saja,” ketusnya dengan nada tak percaya.

 

“Berarti Ki Hajar sudah pernah juga mencicipi tubuh wanita pendosa. Dan pasti juga dia telah menyirami paha mereka dengan air hina.”

 

“Sepertinya sudah pasti.”

 

“Kalau begitu Ki Hajar sudah pasti masuk neraka. Dan kelak dia juga akan ditusuki lonjoran besi yang dibakar berabad-abad di bawah neraka.”

 

“Ah, Ki Hajar sudah mulai gila. Mengajarkan kami untuk berjalan menuju surga namun dia sendiri diam-diam menuju neraka. Apakah orang seperti dia yang sangat dibenci Tuhan kita?”

 

“Mungkin dia juga yang mengajari semua wanita di sana untuk menjadi pelacur.”

 

“Pastilah. Mungkin juga dia berjalan selalu bersorbanan, memakai kopiah putih dan setiap gerak-gerik jarinya dibarengi biji tasbih tetapi dalam otaknya berisikan wanita telanjang bulat. Otak mesum. Otak cabul!”

 

“Hahahahahahahahahahahah…!” mereka tertawa sepuas mungkin, seperti telah mampu meramal arah tujuan berakhir setiap manusia.

 

Sudarta bungkam kata mendengar itu semua. Tapi benarkah lelaki itu adalah Ki Hajar?

 

Annuqayah Latee, 21 Februari 2022

 

                                                                          

Ramli Q.Z. nama pena dari Ramli Qamarus Zaman, lahir di Pulau Tonduk, 19 April 2002. Sekarang sebagai santri PP. Annuqayah Latee, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura. Dia juga masih menempuh pendidikan di Instika (Institut Ilmu Keislaman Annuqayah). Bergiat di organisasi Forleste dan sebagai Pustakawan PPA Latee. Bisa dihubungi melalui IG: ramli_qz


1 Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak