Cerita Mini Fataty Maulidiyah | Ketika Bibir Kita Sama-sama Mengecup Rintik Hujan - Suara Krajan

Ketika Bibir Kita Sama-sama 
Mengecup Rintik Hujan
“You always fall in love, and it will always be like having your throat cut, just that fast,” kau  membisikkan kalimat itu tepat di ujung daun telingaku.

Aku dibuai  angin sore yang mengayun lembut, hampir  tiada terdengar desirnya. Lembutnya begitu tegas membawa kata-kata yang meluncur dari bibirmu, lelakiku. Aku begitu percaya padamu sepenuh hela napas.
 
Aku melihat hidupku pada dirimu. Suaramu  adalah resonansi batinku yang tak kunjung kuucapkan. Jika kau  berkata, seperti  mantra-mantra cinta yang sok tahu isi hatiku. Tapi itu benar adanya. Sehingga jika kita sedang berdua saja, hanya kau  yang  bicara. Dan aku lebih memilih  diam dan menyandarkan kepalaku di dadamu. Hangat.
 
Namun, meskipun hanya kau  yang berbicara, kalimatmu  pendek. Kita berdua memang jarang bercakap kata. Terutama jika hanya berduaan saja. Kita  lebih sibuk bicara dalam hati. Kita berbincang dengan suara hati tepatnya. Semesta laksana ruang yang kedap suara hingga hanya terdengar suara hati kita  bicara.
 
Kita  membiasakan itu agar dalam keadaan raga yang mungkin saja kelak terpisah oleh jarak yang  tak terkira, kita masih bisa saling mendengar.
 
Pernah aku marah padamu. Karena  kau  tidak mengerti  betapa kangennya aku  saat itu. Dan kau kelihatan biasa-biasa  tanpa memberiku  kabar  seharian.  Aku menangis. Membayangkan dirimu  sedang bersama gadis lain yang lebih menawan, lebih kalem, dan  anggun. Mungkin dia lebih patuh dibanding diriku yang sering mendebatmu.   Aku tahu, lelaki sepertimu  banyak yang menyukai, bahkan kelihatan nyata mendekati.
 
Dan aku pernah begitu marah padamu. Kupikir kau tidak mengerti perasaanku.  Dan kau diam saja, saat aku mengomel  padamu. Menuntut perhatianmu.
 
Seperti ini, katamu,
“Jangan bergerak dan banyak bicara, Sayang! Tetaplah di situ dan diam. Aku sedang menikmati lekuk wajah, bibir dan  tubuhmu yang  indah  di antara rintik hujan yang sedang rinai-rinainya. Tunggu sampai hujannya usai. Ini sangat indah,” ucapanmu  menderai  laksana tombak-tombak ksatria yang menembus dadaku.
 
Bagaimana aku marah padamu. Kau memang Raja Gombal yang ulung . Aku menurut padamu. Dan kubiarkan  bibirmu mencium dalam pelipis kananku. Kita menatap megahnya hujan yang menyetubuhi  helai-helai dedaunan. Hujan terlihat sangat estetik.
 
Layaknya perempuan, aku selalu menuntut kepastian. Meski dalam hati saja. Apakah perasaan dan hasratmu yang menggebu itu kelak memudar bagai debu? Jika sedang mempertanyakan itu, airmataku selalu menetes. Dua sampai tiga titik, dan kubiarkan ia lolos membasahi pipi.
 
“Jika hujan masih turun ke bumi, maka begitu pula cintaku padamu. Temuilah hujan. Biarkan bibirmu mengecupnya. Aku pun demikian”.
 
Lalu kita saling berpelukan dan membisu sepanjang waktu. Menatap hujan dan menyentuh rintiknya. Membiarkan suaranya  menggemuruh dalam dada kita. Tak ada yang lebih kita butuhkan, selain hujan dan kecupan.* 
 
5 Desember  2021

Fataty Maulidiyah, merupakan guru di MAN 2 Mojokerto, menulis kumpulan cerpen, puisi, esai, dan artikel di berbagai Media Online, Redaktur dan Tim Kreatif di Majalah Elipsis, saat ini tinggal di Kota Mojokerto

Foto oleh Aline Nadai:pexels.com

1 Komentar

  1. Betapa eloknya tuturan yang mengalir dalam baris-baris penuh rasa.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak